Rabu, 19 Februari 2014


 Road race Matik 130 cc, Cocok Untuk Korek Harian, Modal  cukup Rp 1.5 Juta  buatan TLRC









ManiakMotor - Kelas Matik 130 cc disebut MP7 di Matic Race dan ada juga di road race tarkam. Speksifikasinya murni untuk harian yang dibalapkan, korekannya sederhana. Tidak bikin repot yang bawa dan pemilik, modal dananya minim. Ini korekan yang tidak main duit, cukup main uang yang modalnya dari Rp 1 juta sampai Rp 2,5 juta saja. Itu sih eces.
Adie dari Teluk Jambe Motor, Karawang mengingatkan, ubahan ini tidak sama dengan motor MP7. “Ada beberapa komponen yang masih aslinya dengan pertimbangan biaya dan kenyamanan,” jelas Adie yang sehari-hari membuka bengkel harian tapi rajin ikut balap di kelas ini.
Dana tadi tersedot menambah kapasitas ruang bakar. Tidak main stroke-up, cukup bore-up alias tambah besar diameter piston. Yamaha Mio pakai piston 53 mm dan Honda Beat pakai 54 mm. Silakan pilih produk aftermarket. Bisa juga subtitusi pakai bawaan motor lain, Beat boleh tukar Honda Karisma. Urusan ganti piston ini maksimum dana terpakai Rp 450 ribu. Cari piston model begini, di toko part racing banyak.
CDI BRT yang cuma Rp 450 untuk harian
Kem atau noken-as bawaan bisa di modifikasi, harus di tangan ahlinya. Ini pun Herman Lo atau Ahon yang mekanik senior itu sudah pernah membahasnya untuk durasi harian. Pantat kem paling tinggi dimakan 1,5 mm, walau kem itu baja metal yang pasti lu nggak bisa kunyah.
Sebab yang memakannya gerinda dan alat pencetak kem. Kalau mau coba-coba sendiri silakan baca ini; Korek Kem Standar Semua Motor Harian. You tahu sendiri, kem yang mengatur sirkulasi keluar masuk bahan bakar. Tapi sekadar durasi untuk harian ya. Malah dianjurkan Adie, itu kem tak perlu dikorek, nggak masalah.
Nah dananya silakan dialihkan mengganti CDI racing harian yang paling mahal Rp 450 ribu. Seperti yang pernah diulas pilihannya jangan yang programmable. Tipe malah bikin ente pusing, nggak ada gunanya buat sampeyan, eh untuk harian. "Penggantian CDI menunjang pada kenaikan power, tenaga yang dihasilkan lebih besar," kata Adie.
Pengabutan bahan bakar alias karburator tidak perlu diganti, cukup menyesuaikan ukuran pilot-jet dan main-jet yang sudah berulang kali ditulis cara settingnya. Bila yang injeksi cukup ganti Piggy Back, tapi untuk matik saat ini masih jarang. Apalagi setelah kenalpot
Soal piston subtitusi bisa, after market banjir di pasaran
diganti yang tipe racingnya sangat banyak di pasaran. Tidak digantipun bisa saja, tapi kurang maksimal efek bore-up dan CDI tadi, walaupun tetap mengandalkan karburator asli, Adie meyakini lonjakan tenaga lebih dari 35 persen.
Cerita kenalpot aftermarket, saat ini malah ada juga yang tipe silent alias suara lembutk husus untuk matik bore-up. "Pembedanya ada pada ukuran diameter dan desain leher knalpot termasuk mufflernya, cepat melepas gas buang namun tidak berisik. Harga cuma Rp 350," kata Aung, pramuniaga dari AHRS Racing Produk di Depok, Jawa Barat.
Modifikasi di perangkat transmisi juga harus pada puli dan kawan-kawan continous Variable Transmision (CVT). Namun tidak perlu modif ekstrem. Cukup bermain pada berat roller yang di motor non matik sama seperti kombinasi final gir. "Semakin enteng rolernya, putaran bawah yang meningkat. Sebaliknya begitu. Kalau ada dana lebih, bisa pula mengganti per koplingnya dengan yang lebih keras yang tarikannya spontan," tukas Adie, pegas kopling ini satuannya rpm, tersedia mulai dari 1.000 rpm sampai 2.000 rpm yang berarti makin keras. Belt alias sabuk CVT tak perlu diganti alias cukup andalkan aslinya.
Paparan ini masih masuk kategori nyaman digunakan di jalan raya, tentu jangan samakan dengan matik yang dipakai balap benaran bro. Malah beberapa pembalap, matik 130 cc yang dibalapkan juga dipakai wakuncar. Matik balap benaran bodinya beberapa disesuaikan, lampu juga dihilangkan. Hanya itu bedanya untuk kelas 130 cc di balap dan harian. 

Komparasi Puli Racing Buat Yamaha Mio Bore-up 150cc buatan bengkel TLRC

Saat ini bagi cowok dan cewek pengguna Yamaha Mio, upgrade mesin dari 110 cc menjadi 150 cc merupakan hal yang lumrah. Pasalnya pilihan pembengkakan kapasitas mesin lebih dari 35% itu, sudah banyak yang melakukan. Bukan hanya untuk kebutuhan balap, bore-up 150 cc juga dilakukan pada motor harian.

Untuk dapat hasil bore-up yang maksimal, urusannya enggak melulu di bagian silinder blok dan head. “Bagian CVT juga mesti dapat perhatian lebih. Kalau dibiarkan standar, maka hasilnya akan terasa kurang maksimal.
Bagian yang namanya primary sliding shave (puli, red), biasanya oleh mekanik diusulkan untuk diganti produk racing. Alasannya dengan menggunakan puli racing, power mesin Mio bore-up jadi lebih ngisi.
Saat ini di pasaran banyak beredar puli dengan stempel racing. Bila dilihat secara kasatmata, fisik masing-masing produk tersebut tidak ada bedanya. Namun namanya beda merek, pasti lain racikan.
Nah untuk bisa tahu berapa besar kesaktian puli-puli racing tersebut, kita coba untuk mengomparasinya. Ada 3 merek (CLD, Kawahara & TDR) yang diambil secara acak di pasaran untuk dites. Agar didapat data (power dan torsi) yang valid, pengetesan dilakukan dengan mesin dynojet milik tim balap BRT (Bintang Racing Team) di Cibinong, Jabar.
“Tes dilakukan secara bergantian. Saat dipasang salah satu produk kontestan, mesin Mio digeber 5 kali. Hasil tertinggi dipakai sebagai data pengetesan,” ucap Suar, mekanik BRT yang juga operator mesin dyno.
Sementara Mio yang dipakai sebagai alat tes, kapasitas mesinnya sudah 155,5 cc (pakai piston 58,8 mm). Saat melakukan pengetesan, rollernya pakai merek Kawahara dengan ukuran berat 10 gram. Hasil pengetesannya sebagai berikut.
CLD.
Dibanderoli Rp 250 ribu dan termasuk pendatang baru. Enggak ada ciri khusus yang pada tampilan luar part racing ini. Namun pada bagian dalamannya, terdapat slider berwarna hitam dengan tulisan Racing-High Performace Cam. Masih di bagian yang sama, plastic slider guide-nya dibuat dengan warna merah.

Saat dites, power asli Mio yang 8,20 dk/6.700 rpm naik sampai 8,35 dk/6.200 rpm. Sementara torsi yang bisa dikail 10,22 Nm/5.700 rpm (standar 9,53 Nm/5.700 rpm).
KAWAHARA.
Di pasaran, puli ini ditawarkan dalam 2 tipe (K1 & K2). Untuk keperluan komparasi kali ini, yang dites puli Kawahara tipe K1. Ciri khas puli yang dipatok dengan harga Rp 275 ribu ini, terdapat pada permukaannya (ada grafir Kawahara Racing).

Sementara di sisi dalamnya, dari mulai slider, plastic slider dan coakan rollernya berwarna hitam. Setelah digas di atas mesin dyno, catatan tenaga Mio 8,68 dk/6.300 rpm (standar 8,20 dk/6.700 rpm) dan torsinya 10,18 Nm/5.900 rpm (standar 9, 53 Nm/5.700 rpm).
TDR.
Di antara 2 kontestan lain, puli ini harganya paling mahal (Rp 410 ribu). Namun bila dilihat dari catatan pengetesannya, power Mio bore-up yang jadi alat peraga terdongkrak sampai 9,00 dk/6.700 rpm dari standarnya yang 8,20 dk/6.700 rpm (torsi 9,91 Nm/6.200 rpm dari standar 9,53 Nm/5.700 rpm).

Yamaha Mio Thailand Drag Bike FFA Matic 350 cc

Bookmark and Share
Yamaha Mio YSS FCC Dang Mahachai K-1 Speed which is translucent 6.8 Seconds in FFA Drag Bike Matic 350 cc, Drag Racer Thailand Napat Changpai. That in the event TDR Racing Super Open International (TRSOI) at Circuit Tepnakorn, Thailand. Though the technology carried arguably not much different from what the country (Indonesia) Tunner wear on the track straight for 201 meters.

Yamaha Mio YSS FCC Dang Mahachai Thailand.
Specifications of Yamaha Mio Thailand YSS FCC Dang Mahachai K-1 Speed Drag Bike
piston diameter 70 mm mounted to linner. "More like to use this piston. Due to power better and could use a big valve, "said Witthaya Chamnanwat, mechanic Dangmahachai team from Thailand this. Big Piston, would also need a valve that also fit the needs of fuel and exhaust gas. valve 34 mm (in) and 30 mm (ex). Mechanic Dangmahachai team from Thailand Witthaya Chamnanwat choose titanium valve material.
Through the use of a bloated bore, stroke also lengthen. Crankshaft move the pen as far as 13 mm. That means, up and down a 26 mm. Total of 83.4 mm stroke. Rounded, 84 mm. Capacity is now 323 cc cylinder. Create handlebars piston, he rely on brand TDR 120 mm in length. Oh yes! Stretcher cylinder block which has a mixture of ceramic materials.  CDI using Itac AP brand.Crburator using Keihin PWK 34 mm. Race which already has a cylinder 323 cc, large diameter exhaust apply neck. That is, 32 mm. So, the rest of the exhaust gas generated current.

Other Specifications
Front tire size 60/80-17 using Vee Rubber, Rear tire size 45/90-17 Vee Rubber, Sok back using YSS Brand, Brakes Caliper using Brembo brand, Chassis Yamaha Mio using Aluminum (Aftermarket) for Racing Use Only.
Knalpot Yamaha Mio Thailand Drag Bike.

Rabu, 27 Februari 2013

10 Pemain Sepak Bola Termahal di Dunia

Para pemain sepak bola di klub-klub terkenal tingkat dunia mempunyai "harga" yang sungguh sangat mencengangkan . Tidak mengherankan bila para pemain sepak bola tersebut bisa menjalani hidup dengan mewah dan  bergelimpangan harga. Kualitas mereka dalam bermain sepakbola menentukan nilai jual mereka sendiri. Bahlan nilai transfer antar klub tidak bisa dibilang murah.

berikut ini adalah 10 pemain sepak bola termahal di dunia:


1. Zlatan Ibrahimovic



Transfer:
Malmo FF untuk Ajax Amsterdam, 7.800.000 €
Ajax Amsterdam ke Juventus Turin, 25.000.000 €
Juventus Turin ke Inter Milan, 24.800.000 €
Inter Milan ke FC Barcelona, 69.500.000 € (49.500.000 € ditambah Samuel Eto'o)
FC Barcelona ke AC Milan, 24.000.000 € (Milan berkewajiban untuk membeli dia di awal musim berikutnya)
Biaya total transfer: 150.600.000 €


2. Nicolas Anelka



Transfer:
€ Arsenal FC ke Real Madrid, 35.000.000 €
Real Madrid FC Paris Saint-Germain, 34.500.000 €
FC Paris Saint-Germain ke FC Liverpool, 1.400.000 € (pinjaman)
FC Paris Saint-Germain ke Manchester City, 19.800.000 €
Manchester City ke Fenerbahce Istanbul, 5.500.000 €
Fenerbahce Istanbul untuk Bolton Wanderers, 12.000.000 €
Bolton Wanderers dengan FC Chelsea, 19.900.000 €
Biaya total transfer: 128.600.000 €


3. Hernan Crespo



Transfer:
River Plate dengan FC Parma, 4.000.000 €
FC Parma ke Lazio Roma, 55.000.000 €
Lazio Roma ke Inter Milan, 36.000.000 €
Inter Milan ke Chelsea FC, 26.000.000 €
Biaya total transfer: 121.000.000 €


4. Juan Sebastian Veron



Transfer:
Estudiantes ke Boca Juniors, 2.200.000 €
Boca Juniors ke Sampdoria Genoa,???
Sampdoria Genoa Lazio Roma, 30.000.000 €
Lazio Roma ke Manchester United, 42.600.000 €
Manchester United ke Chelsea FC, 22.500.000 €
Chelsea ke Inter Milan,???
Inter Milan ke Estudiantes, 2.200.000 €
Biaya total transfer: 117.000.000 €


5. Cristiano Ronaldo



Transfer:
Sporting Lisbon ke Manchester United, 17.500.000 €
Manchester United ke Real Madrid, 94.000.000 €
Biaya total transfer: 111.500.000 €


6. Ronaldo



Transfer:
Cruzeiro untuk PSV Eindhoven, 5.475.000 €
PSV Eindhoven ke FC Barcelona, ​​15.000.000 €
FC Barcelona ke Inter Milan, 28.000.000 €
Inter Milan ke Real Madrid, 45.000.000 €
Real Madrid ke AC Milan, 7.500.000 €
Biaya total transfer: 100.975.000 €


7. Robbie Keane



Transfer:
Wolverhampton Wanderes ke Coventry City, 9.000.000 €
Coventry City ke Inter Milan, 19.500.000 €
Inter Milan ke Leeds United, 18.000.000 €
Leeds United ke Tottenham Hotspur, 10.500.000 €
Tottenham Hotspur ke FC Liverpool, 24.000.000 €
Liverpool ke Tottenham Hotspur, 16.700.000 €
Biaya total transfer: 97.700.000 €


8. Christian Vieri



Transfer:
Atalanta Bergamo ke Juventus Turin, 2.500.000 €
Juventus Turin ke Atletico Madrid, 15.000.000 €
Atletico Madrid Lazio Roma, 25.000.000 €
Lazio Roma ke Inter Milan, 45.000.000 €
Biaya total transfer: 87.500.000 €


9. Robinho



Transfer:
Santos FC ke Real Madrid, 24.000.000 €
Real Madrid ke Manchester City, 43.000.000 €
Manchester City ke AC Milan, 18.000.000 €
Biaya total transfer: 85.000.000


10. Zinedine Zidane



Transfer:
AS Cannes ke FC Girondins Bordeaux, 7.000.000 €
FC Girondins Bordeaux ke Juventus Turin, 3.500.000 €
Juventus Turin ke Real Madrid, 73.500.000 €
Biaya total transfer: 84.000.000 €

Kamis, 21 Februari 2013

10 Klub Tersukses di Dunia


10. Juventus Era Lippi (1994-2003)

Marcello Lippi mengambil alih posisi manajer Juventus pada awal musim 1994-95
. Ia lantas mengantarkan Juventus memenangi Seri-A untuk pertama kalinya sejak pertengahan 1980-an di musim 1994-95. Pemain bintang yang ia asuh saat itu adalah Ciro Ferrara, Roberto Baggio, Gianluca Vialli dan pemain muda berbakat bernama Alessandro Del Piero. Lippi memimpin Juventus untuk memenangi Liga Champions Eropa pada musim itu juga, dengan mengalahkan Ajax Amsterdam melalui adu penalti, setelah skor imbang 1-1 pada babak normal, dimana Fabrizio Ravanelli menyumbangkan satu gol untuk Juve.
Sesaat setelah bangkit kembali, para pemain Juventus yang biasa-biasa saja saat itu secara mengagumkan bisa mengembangkan diri mereka menjadi pemain-pemain bintang. Mereka adalah Zinedine Zidane, Filippo Inzaghi dan Edgar Davids. Juve kembali memenangi Seri-A musim 1996–97 dan 1997–98, termasuk juga Piala Super Eropa 1996dan Piala Interkontinental 1996. Juventus juga mencapai final Liga Champions di musim 1997 dan 1998, tetapi mereka kalah oleh Borussia Dortmund (Jerman) dan Real Madrid (Spanyol).
Setelah dua musim absen karena dikontrak oleh Inter Milan (dan gagal), Marcello Lippi kembali ke Juventus di awal 2001. Pria penyuka cerutu ini lantas membawa beberapa pemain biasa, yang kembali ia berhasil sulap menjadi pemain hebat, di antaranya Gianluigi Buffon, David Trézéguet, Pavel Nedvěd dan Lilian Thuram, dimana para pemain tersebut membantu Juve kembali memenangi dua gelar Seri-A di musim 2001-02 dan 2002-03. Juve juga berhasil maju kembali ke final Liga Champions, sayangnya mereka kalah oleh sesama tim Italia lain, AC Milan. Tahun berikutnya, Lippi diangkat menjadi manajer timnas Italia setelah bersaing ketat dengan Fabio Capello, dan mengakhiri eranya sebagai pelatih terbaik Juventus di era 1990-an dan awal 2000-an

9. Benfica era Eusebio (1960-1970)

Benfica adalah tim pertama untuk memecahkan dominasi Real Madrid di awal Piala Champions Eropa . Setelah memenangkan dua Piala Champion berturut-turut melawan FC Barcelona (1961) dan Real Madrid (1962). Itu adalah kali terakhir Benfica memenangkan kompetisi internasional.
Selama dekade ini, Benfica mencapai final Piala Champions Eropa tiga kali, tetapi mereka gagal meraihnya, setelah kalah melawan Milan (1963), Internazionale (1965), dan Manchester United (1968).
Pada tahun 1968, Benfica dianggap sebagai tim terbaik Eropa oleh Perancis Sepakbola , meskipun kekalahannya di Piala Champions. Banyak keberhasilan di tahun 1960-an dicapai berkat bintang mereka Eusebio. Bahkan, tahun 1960-an adalah periode terbaik sejarah Benfica, di mana klub memenangkan delapan Kejuaraan (1960, '61, '63, '64, '65, '67, '68, dan '69), tiga Portugal Piala (1961, '64, dan '69), dan dua Piala Champions Eropa (1961 dan '62).

8. Juventus Era Trappatoni (1981-1993)

Era tangan dingin Trapattoni benar-benar membuat Seri-A porak poranda di 1980-an. Juve sangat perkasa di era tersebut, dengan gelar Seri-A empat kali di era tersebut. Setelah 6 pemainnya ikut andil dalam timnas Italia yang menjuarai Piala Dunia 1982 dengan Paolo Rossi sebagai salah satu pemain Juve kemudian terpilih menjadi Pemain Terbaik Eropa pada 1982, sesaat setelah berlangsungnya Piala Dunia di tahun tersebut ditambah dengan kedatangan bintang Prancis Michel Platini, Juventus kembali difavoritkan di musim 1982-83. Namun Juventus yang juga disibukkan dengan jadwal kejuaraan Eropa memulai kompetisi dengan lambat.
Hal itu ditunjukkan dengan menelan kekalahan dari Sampdoria di pertandingan pembuka musim serta menang dengan tidak meyakinkan atas Fiorentina dan Torino. Sementara di Eropa, mereka berhasil menyingkirkan Hvidovre (Denmark) dan Standard Liege (Belgia) di penyisihan. Akan tetapi, Juventus kembali ke trek juara di musim dingin bersamaan keberhasilan mereka menembus perempat final Liga Champions. Selanjutnya, kemenangan atas Roma melalui 2 gol dari Platini dan Brio membuat jarak keduanya berselisih 3 poin dengan Roma di posisi puncak. Namun, karena konsentrasi Juve terpecah antara Serie A dan Liga Champions akhirnya tidak berhasil mengejar AS Roma yang menjadi juara. Juventus seharusnya bisa menumpahkan kekecewaannya di Liga saat mereka bertemu Hamburg di final Liga Champions tapi hal itu tidak terjadi. Berada di posisi kedua di kompetisi domestic dan Eropa, Juventus akhirnya berhasil merebut gelar penghibur saat menjuarai Piala Italia dan Piala Interkontinental.
Musim panas 1983, Juve kehilangan dua pilar inti mereka. Dino Zoff gantung sepatu di usia 41 tahun sedangkan Bettega beralih ke Kanada untuk mengakhiri karirnya di sana. Juve lantas merekrut kiper baru dari Avellino: Stefano Tacconi dan Beniamino Vinola dari klub yang sama. Sementara Nico Penzo menjadi pendampong Rossi di lini depan. Juve pada saat itu berkonsentrasi penuh di dua kompetisi, Liga dan Piala Winner. Hasilnya, melalui penampilan yang konsisten sepanjang musim, Juve merengkuh gelar liga satu minggu sebelum kompetisi usai. Dan gelar ini ditambah gelar lainnya di Piala Winner saat mereka mengalahkan Porto 2-1 di Basel pada 16 Mei 1984. Dua gelar ini sangat bersejarah dan merupakan prestasi bagi kapten klub Scirea dan kawan-kawan.
Setelah era keemasan Rossi usai, Michel Platini kemudian secara mengejutkan berhasil menjadi pemain terbaik Eropa tiga kali berturut-turut; 1983, 1984 dan 1985, dimana sampai saat ini belum ada pemain yang bisa menyamai dirinya. Juventus menjadi satu-satunya klub yang mampu mengantarkan pemainnya menjadi pemain terbaik Eropa sebanyak empat tahun berurutan.Platini juga menjadi bintang saat Juve berhasil menjadi juara Liga Champions Eropa pada 1985 dengan sumbangan satu gol semata wayangnya. Tragisnya, final melawan Liverpool FC dari Inggris tersebut yang berlangsung di Stadion Heysel Belgia, harus dibayar mahal dengan kematian 39 tifoso Juventus akibat terlibat kerusuhan dengan para hooligans dari Liverpool. Sebagai hukuman, tim-tim Inggris dilarang mengikuti semua kejuaraan Eropa selama lima tahun.Juventus kemudian merebut scudetto terakhir mereka di era 1980-an pada musim 1985-86, yang juga menjadi tahun terakhir Trappatoni di Juventus. Memasuki akhir 1980-an, Juve gagal menunjukkan performa terbaiknya, mereka harus mengakui keunggulan Napoli dengan bintang Diego Maradona, dan kebangkitan dua tim kota Milan, AC Milan dan Inter Milan.Pada 1990, Juve pindah kandang ke Stadio delle Alpi, yang dibangun untuk persiapan Piala Dunia 1990.


7. Inter Milan Era Hererra (1960-1968)

Setelah masa perang, Inter memenangi gelar Seri A lagi pada tahun 1953 dan yang ketujuh di tahun 1954. Setelah memenangi beberapa trofi ini, Inter memasuki masa keemasan mereka yang disebut La Grande Inter. Selama masa keemasan mereka, dibawah asuhan Pelatih Helenio Herrera, Inter memenangkan tiga trofi di tahun 1963, 1965, dan 1966. Pada waktu ini, Inter juga terkenal dengan kemenangan Piala Eropa dua kali berturut-turut. Di tahun 1963, Inter memenangkan trofi Piala Eropa mereka setelah mengalahkan klub terkenal Real Madrid. Musim selanjutnya, bermain di kandang mereka sendiri, Inter memenangkan trofi Piala Eropa untuk kedua kalinya setelah mengalahkan klub dari Portugal, Benfica.


6. Liverpool era Bob Paisley (1974-1983)

Kejayaan Liverpool bersama Bill Shankly dilanjutkan Bob Paisley yang pada saat itu berusia 55 tahun. Dia menjabat sebagai manajer Liverpool FC dari tahun 1974 sampai 1983 dan hanya pada awal tahun Bob Paisley tidak dapat memberikan gelar untuk Liverpool FC. Selama 9 tahun Bob Paisley menjabat sebagai manajer Liverpool FC, beliau memberikan total 21 tropi, termasuk 3 Piala Champion, 1 Piala UEFA, 6 juara Liga Inggris dan 3 Piala Liga secara berturut-turut. Dengan semua gelar itu tidak salah bila Bob Paisley menjadi manajer tersukses yang pernah menangani klub Inggris. Tidak hanya sukses memberikan gelar untuk Liverpool FC, tetapi Bob Paisley juga sukses dalam melakukan regenerasi di tubuh Liverpool FC dengan tampilnya para bintang muda seperti: Graeme Souness, Alan Hansen, Kenny Dalglish dan Ian Rush. Walaupun Bob Paisley akan mewariskan sebuah skuat muda yang sangat hebat dan berbakat, tetapi dengan semua torehan gelar itu akan menjadi sangat berat buat siapapun penerusnya.
Sebagai penerus Bob Paisley yang pensiun di tahun 1983, Joe Fagan yang pada saat itu berusia 62 tahun, berhasil mempersembahkan treble buat Liverpool yaitu juara Liga, juara Piala Liga dan juara Piala Champion. Raihan ini menjadikan Liverpool FC sebagai klub sepakbola Inggris yang berhasil meraih 3 gelar juara sekaligus dalam 1 musim kompetisi. Sayangnya, catatan keemasan itu sedikit ternoda oleh insiden di stadion Heysel. Insiden yang terjadi sebelum pertandingan final Piala Champion antara Liverpool FC dan Juventus ini menewaskan 39 orang, sebagian besar adalah pendukung Juventus. Insiden ini mengakibatkan pelarangan bagi semua klub sepakbola Inggris untuk berkompetisi di Eropa selama 5 tahun. Dan Liverpool FC dilarang mengikuti semua kompetisi Eropa selama 10 tahun yang akhirnya dikurangi menjadi 6 tahun. Selain itu, 14 Liverpudlian didakwa bersalah atas peristiwa yang dikenal dengan Tragedi Heysel. Setelah peristiwa mengerikan itu, Joe Fagan memutuskan untuk pensiun dan memberikan tongkat manajerial selanjutnya kepada Kenny Dalglish yang ditunjuk sebagai player-manager. Joe Fagan menyerahkan tugas manajerial Liverpool FC kepada Kenny Dalglish yang pada saat itu sudah menjadi pemain hebat tetapi masih harus membuktikan kapabilitas sebagai seorang manajer.
Pada masa kepemimpinan Kenny Dalglish, Liverpool FC dibawa menjadi juara Liga Inggris sebanyak 3 kali dan juara Piala FA sebanyak 2 kali, termasuk gelar ganda juara Liga Inggris dan juara Piala FA pada musim kompetisi 1985/86. Bila tidak terkena sangsi dari UEFA, bisa dipastikan Liverpool FC menjadi penantang serius untuk merebut Piala Champion pada saat itu. Kesuksesan Liverpool FC di masa kepemimpinan Kenny Dalglish kembali dibayangi kejadian mengerikan lainnya yaitu Tragedi Hillsborough. Pada pertandingan semi-final Piala FA melawan Nottingham Forrest tanggal 15 April 1989, ratusan penonton dari luar stadion memaksa masuk ke dalam stadion yang mengakibatkan Liverpudlian yang berada di tribun terjepit pagar pembatas stadion. Hal ini mengakibatkan 94 Liverpudlian meninggal di tempat kejadian, 1 Liverpudlian meninggal 4 hari kemudian di rumah sakit dan 1 Liverpudlian lainnya meninggal dunia setelah koma selama 4 tahun. Akibat Tragedi Hillsborough ini pemerintah Inggris melakukan penelitian kembali mengenai faktor keamanan stadion sepakbola di negaranya. Dikenal dengan sebutan Taylor Report, menyebutkan bahwa penyebab dari Tragedi Hillsborough ini adalah faktor penonton yang melebihi kapasitas stadion karena kurangnya antisipasi dari pihak keamanan. Akhirnya pemerintah Inggris mengeluarkan undang-undang yang mewajibkan setiap klub divisi I Inggris untuk meniadakan tribun berdiri. Setelah menjadi saksi hidup dari tragedi mengerikan Heysel dan Hillsborough, 'King' Kenny Dalglish tidak pernah bisa lepas dari trauma yang menghinggapi dirinya. Akhirnya pada tanggal 22 Februari 1990 beliau mengumumkan pengunduran dirinya sebagai manajer Liverpool FC. Pengumuman yang sangat mengejutkan dunia sepakbola pada saat itu, karena Liverpool FC sedang bersaing ketat dengan Arsenal dalam perebutan gelar Liga Inggris. Alasan yang disebutkan oleh Kenny Dalglish pada saat itu adalah tidak bisa lagi menghadapi tekanan dalam menahkodai Liverpool FC. Selama beberapa minggu Liverpool FC ditangani oleh pelatih tim utama Ronnie Moran sebelum akhirnya Liverpool FC menunjuk Graeme Souness sebagai manajer berikutnya. 'King' Kenny Dalglish kemudian dikenang sebagai legenda terhebat Liverpool FC karena sangat sukses baik sebagai pemain maupun manajer.


5. Muenchen Era Franz Beckenbauer (1970-1977)

Udo Lattek mengambil alih pada tahun 1970. Setelah memenangkan piala di musim pertamanya, Lattek pimpin Bayern menjadi juara ketiga Jerman. Pertandingan penentu dalam musim 1971-72 melawan Schalke 04 adalah pertandingan pertama di baru Stadion Olimpiade , dan juga pertandingan disiarkan live pertama dalam sejarah Bundesliga. Bayern mengalahkan Schalke 5-1 dan dengan demikian merebut gelar, juga pengaturan beberapa catatan, termasuk poin diperoleh dan gol. Bayern juga memenangi dua kejuaraan berikutnya, tetapi puncaknya adalah kemenangan mereka di final Piala Eropa melawan Atletico Madrid , Bayern menang 4-0 yang setelah replay. Selama tahun-tahun berikutnya tim tidak berhasil dalam negeri, tetapi mempertahankan gelar Eropa mereka dengan mengalahkan Leeds United di akhir ketika Roth dan kemenangan Müller dijamin dengan tujuan akhir. Setahun kemudian di Glasgow , AS Saint-Étienne yang dikalahkan oleh Roth dan Bayern menjadi klub ketiga untuk memenangkan trofi dalam tiga tahun berturut-turut. Trofi akhir dimenangkan oleh Bayern di era ini adalah Piala Intercontinental , di mana mereka mengalahkan klub Brasil Cruzeiro


4. Ajax Era Johan Cruyff (1965-1973)

Ajax salah satu klub paling sukses di dunia, menurut IFFHS .Ajax adalah klub paling sukses ketujuh Eropa abad ke-20 Klub ini salah satu dari lima tim yang telah mendapatkan hak untuk menjaga Piala Eropa dan mengenakan lencana beberapa pemenang, mereka menang berturut-turut di 1971-1973. Pada tahun 1972, mereka menyelesaikan treble Eropa dengan memenangkan Belanda Eredivisie , Piala KNVB , dan Piala Eropa, untuk tanggal, mereka adalah satu-satunya tim untuk menjaga Piala Eropa dan mencapai treble Eropa.Mereka juga salah satu dari tiga tim untuk memenangkan treble dan Piala Intercontinental pada tahun musim / kalender yang sama;Hal ini dicapai pada musim 1971-72. Ajax, Juventus dan Bayern Munich adalah tiga klub untuk telah memenangkan semua tiga besar UEFA kompetisi klub.
Bersama Cruyff mereka klub di segani Dieranya ,Selain sederet piala,Mereka juga memainkan sepakbola Menyerang yg disebut Total Football.

3. Real Madrid Era Di Stefano (1953-1954)

Santiago Bernabéu Yeste terpilih menjadi presiden Real Madrid tahun 1943. Di bawah kepemimpinannya, Real Madrid kemudian berhasil membangun Stadion Santiago Bernabéu dan tempat berlatih klub di Ciudad Deportiva yang sebelumnya sempat rusak akibat Perang Saudara Spanyol. Pada 1953, Bernabeu kemudian mulai membangun tim dengan cara mendatangkan pemain-pemain asing, salah satunya adalah Alfredo Di Stéfano.
Pada tahun 1955, berdasar dari ide yang diusulkan oleh jurnalis olahraga Perancis dan editor dari L'Equipe, Gabriel Hanot, Bernabéu, Bedrignan, dan Gusztáv Sebes menciptakan sebuah turnamen sepak bola percobaan dengan mengundang klub-klub terbaik dari seluruh daratan Eropa. Turnamen ini kemudian menjadi dasar dari Liga Champions UEFA yang berlangsung saat ini. Di bawah bimbingan Bernabéu, Real Madrid memantapkan dirinya sebagai kekuatan utama dalam sepak bola, baik di Spanyol maupun di Eropa. Real Madrid memenangkan Piala Eropa lima kali berturut-turut antara tahun 1956 dan 1960, di antaranya kemenangan 7–3 atas klub Jerman, Eintracht Frankfurt pada tahun 1960. Setelah kelima berturut-turut sukses, Real secara permanen diberikan piala asli turnamen dan mendapatkan hak untuk memakai lencana kehormatan UEFA.Real Madrid kemudian memenangkan Piala Eropa untuk keenam kalinya pada tahun 1966 setelah mengalahkan FK Partizan 2–1 pada pertandingan final dengan komposisi tim yang seluruhnya terdiri dari pemain berkebangsaan Spanyol, sekaligus menjadi pertama kalinya dalam sejarah pertandingan Eropa. Tim ini kemudian dikenal lewat julukan "Ye-ye". Nama "Ye-ye" berasal dari "Yeah, yeah, yeah" chorus dalam lagu The Beatles berjudul "She Loves You" setelah empat anggota tim berpose untuk harian Diario Marca mengenakan wig khas The Beatles. Generasi "Ye-ye" juga berhasil menjadi juara kedua Piala Champions pada tahun 1962 dan 1964.
Pada 1970-an, Real Madrid memenangi kejuaraan liga sebanyak 5 kali disertai 3 kali juara Piala Spanyol. Madrid kemudian bermain pada final Piala Winners UEFA pertamanya pada tahun 1971 dan kalah dengan skor 1–2 dari klub Inggris, Chelsea. Pada tanggal 2 Juli 1978, presiden klub Santiago Bernabéu meninggal ketika Piala Dunia FIFA sedang berlangsung di Argentina. FIFA kemudian menetapkan tiga hari berkabung untuk menghormati dirinya selama turnamen berlangsung. Tahun berikutnya, klub mengadakan Kejuaraan Trofi Santiago Bernabéu sebagai bentuk penghormatan pada mantan presidennya tersebut.

2. AC Milan Era Sacchi (1987-1991)

Setelah serentetan masalah menerpa Milan, dan membuat klub kehilangan suksesnya, AC Milan dibeli oleh enterpreneur Italia, Silvio Berlusconi. Berlusconi adalah sinar harapan Milan kala itu. Dia datang pada 1986. Berlusconi memboyong pelatih baru untuk Milan, Arrigo Sacchi, serta tiga orang pemain Belanda, Marco van Basten, Frank Rijkaard, dan Ruud Gullit, untuk mengembalikan tim pada kejayaan. Ia juga membeli pemain lainnya, seperti Roberto Donadoni, Carlo Ancelotti, dan Giovanni Galli.
Dibawah kepelatihan Sacchi, Milan bermain berbeda dengan tim-tim Italia lain, dengan mengambil gaya bermain Brazil saat memenangkan Piala Dunia 1970, dan Ajax di era total football Rinus Michels. Dengan meninggalkan pola man-marking, menggantinya dengan permainan yang intensif, menyerang, dan pressing ketat, dia merevolusi wajah sepakbola Italia.
Barisan deffence Milan saat diisi oleh kuartet Italian best, di komandoi oleh Franco Baresi dan menampilkan sosok Paolo Maldini muda, dan trio Belanda: van Basten, Ruud Gullit, dan Frank Rijkaard yang menyokong penyerangan. Tim ini memenangkan Club World Cup dua kali, dan di Mei 1990, Milan mengalahkan Benfica untuk menjaga throphy tetap bermukim di San Siro, dan menjadi tim terakhir hingga saat ini yang dapat memenangkan Piala Champions 2 kali berturut-turut.

1. Barcelona Era Pep Guardiola (2008-2012)

Disebut - sebut sebagai Tim Terbaik sepanjang sejarah,bukan hanya karena memenangkan 6 gelar dalam setahun ataupun 2 Liga Champion,3 Laliga ,1 Copa Delrey,3 Super Copa Spanyol,1 Piala Dunia Antar Klub,Tetapi karena filosofi bermain yg selalu menyerang, Penguasaan Bola hingga 85%,Mayoritas pemain dari tim Yunior (Lamasia),Messi,Xavi dan Iniesta adalah peraih 3 besar pemain terbaik versi FIFA (FIFA Ballon D'Or).
Era keemasan Barcelona dimulai sejak kehadiran Frank Rijkaard dengan membeli pemain macam Ronaldinho,Eto'o,Daniel Alves,hingga Thiery Henry.
hingga th 2008 mengangkat Pep dari Pelatih Junior.
Hingga Kin Pep Guardiola mempersembahkan 10 Piala Bergengsi bagi Barca dalam 3 tahun kepelatihannya.
Namun sayangnya,kini pep telah mengundurkan diri sebagai pelatih barcelona,ini sungguh mengecewakan banyak pihak,termasuk saya.

Lionel Messi, pemain terbaik dunia 2012


Lionel Messi terpilih sebagai pemain terbaik dunia 2012.
Bintang sepak bola Barcelona dan Argentina, Lionel Messi, terpilih sebagai pemain terbaik dunia 2012 atau FIFA Ballon d'Or.
Messi, yang kini berusia 25 tahun, meraih penghargaan bergengsi ini untuk keempat kalinya dalam empat tahun terakhir.
Pemain berperawakan mungil ini meraih 41,60 persen suara, dengan menyisihkan dua pesaingnya yaitu Cristiano Ronaldo (23,68 persen) dan Andres Iniesta (10,91 persen)
FIFA mengumumkan pencalonan tiga pemain itu dari 23 daftar yang dikeluarkan sebelumnya.
Penghargaan ini diberikan di Zurich, Swiss, Selasa (7/1) dini hari.
Penyerang klub Barcelona, yang mencetak 50 gol di La Liga dalam musim pertandingan lalu, sejak awal diperkirakan akan meraih pemain terbaik FIFA untuk empat tahun berturut-turut.
Sebelumnya, belum ada satu pun pemain yang mampu meraih penghargaan terbaik dunia ini dalam empat tahun berturut-turut.
"Sejujurnya, penghargaan keemoat kalinya ini sungguh sangat luar biasa... Rasanya sulit untuk diukur melalui kata-kata."
Lionle Messi
"Sejujurnya, penghargaan keempat kalinya ini sungguh sangat luar biasa... Rasanya sulit untuk diukur melalui kata-kata," kata Messi, usai menerima penghrgaan tersebut.

Akui peran Iniesta

Messi kemudian mengakui, penghargaan ini tidak terlepas dari sokongan rekan-rekannya di Barcelona, terutama sosok Iniesta. "Sebuah pengalaman luar biasa dapat berlatih dan bermain dengan Anda (Iniesta)".
Di hadapan tamu undangan dan wartawan, Messi lantas mengucapkan terimakasih pada rekan-rekannya di timnas Argentina dan teman-teman yang memberikan suara padanya.
Secara khusus, Messi juga menyebut peran istri dan anaknya yang selalu memberi dukungan.
Pada 2012 lalu, Messi hanya mampu membawa Barcelona menjadi juara Copa del Rey, tetapi penampilan fantastisnya dengan mencetak 91 gol selama setahun, tampaknya menjadi tolok ukur kenapan dia akhirnya terpilih sebagai pemain terbaik dunia 2012.
Pemain umur 25 yang kini merumput di Barcelona ini menyingkirkan rekor Gerd Mueller, dengan 85 gol yang diciptakan tahun 1972, dan mencatatkan rekor baru termasuk jumlah gol terbanyak untuk sebuah klub dan satu negara.
FIFA mengumumkan pencalonan tiga pemain itu dari 23 daftar yang dikeluarkan sebelumnya.

Del Bosque, pelatih terbaik

Pelatih timnas Spanyol, Vicente Del Bosque terpilih sebagai pelatih terbaik dunia 2012.
Sementara itu, pelatih timnas Spanyol Vicente Del Bosque dipilih sebagai pelatih terbaik 2012 dengan meraih penghargaan FIFA Ballon d'Or 2012 untuk kategori pelatih.
Dia mengalahkan mantan pelatih Barcelona Pep Guardiola serta pelatih Real Madrid Jose Mourinho.
Del Bosque berjasa membawa Spanyol meraih Piala Eropa 2012, Juli silam.
Gelar ini menambah kesuksesan yang diperolehnya dengan mengantar tim yang diasuhnya saat menjadi juara dunia di Piala Dunia di Afrika Selatan, 2010 lalu.
"Ini adalah kehormatan besar," kata Del Bosque usai menerima penghargaan tersebut.
Sementara itu, pesepakbola perempuan, Abby Wambach, meraih trofi pemain terbaik dunia 2012 untuk kategori pesepakbola perempuan.
Sebelumnya, Abby telah lima kali meraih penghargaan pemain terbaik AS serta pencetak gol terbanyak di Liga sepak bola AS setelah pemain senior Mia Hamm.
Klub sepak bola asal Eropa memag sangat populer di dunia siapa sih yang gak kenal seperti Real Madrid, Ac Milan dan Klub Klub besar lainya mereka menjadi populer karena permainan yang sangat bagus dan bintang bintang lapangan hijau yang dimiliki cukup terkenal sehinga Klub asal Eropa menjadi Klub faforit para pecinta sepak bola di dunia ini. Nah berikut ini ada 10 Klub sepak bola Eropa paling populer di dunia seperti di kutip dari goal.com.
1. Real Madrid


Didirikan pada 6 Maret 1902. Klub ini juga merupakan salah satu klub terbaik abad ke-20 menurut FIFA. Mereka telah meraih 31 gelar La Liga, 18 gelar Copa del Rey, 8 Piala Super Spanyol, 9 gelar Piala Champions/Liga Champions UEFA, 2 Piala UEFA, 1 Piala Super Eropa, dan 3 Piala Interkontinental.
2. AC Milan : 9.5


Didirikan pada tahun 1899. Milan adalah salah satu klub tersukses di Italia, dengan total raihan gelar juara lebih dari 29 tropi dan menjadi terbanyak kedua setelah Juventus (40 tropi domestik). Milan juga menjadi klub tersukses di dunia bersama Boca Juniors, dengan rekor 14 trofi konfederasi (UEFA-Eropa) dan 4 trofi dunia. Milan juga mengenakan bintang tanda bahwa mereka memenangi lebih dari 10 gelar Seri A. Ditambah lagi, Milan juga memakai Lambang Penghargaan UEFA di seragam mereka karena memenangi lebih dari lima gelar Liga Champions.
3. Juventus


Klub ini didirikan pada 1897. Juventus merupakan klub tersukses dalam sejarah Liga Italia Seri-A dengan raihan 27 gelar juara (Scudetto), dan juga tercatat sebagai salah satu klub tersukses di dunia. Merujuk pada International Federation of Football History and Statistics, sebuah organisasi internasional yang berafiliasi pada FIFA, Juventus menjadi klub terbaik Italia pada abad 20, dan menjadi klub terbaik Italia kedua di Eropa.
4. Barcelona


Didirikan pada 1899. Dengan persembahan 21 gelar Liga Spanyol, 25 gelar Copa del Rey, 10 gelar Piala Super Spanyol, 4 gelar Liga Champions Eropa, 4 gelar Piala UEFA, 4 gelar Piala Super Eropa, FC Barcelona menjadi salah satu tim tersukses di Spanyol, Eropa, dan dunia. Bukti paling nyata ketika pada tahun 2009 FC Barcelona berhasil menjadi klub Spanyol pertama yang berhasil meraih gelar Treble (juara La Liga, Copa del Rey, dan Liga Champions). Dilanjutkan dengan raihan gelar Piala Super Spanyol, Piala Super Eropa dan FIFA Club World Cup untuk melengkapi raihan gelarnya menjadi Sextuples. Barcelona merupakan klub sepak bola pertama di dunia yang melakukan raihan ini
5. MU


Didirikan pada 1878. MU telah memenangi 19 trofi juara Liga Utama Inggris (termasuk saat masih disebut Divisi Satu). 3 Liga Champions Eropa, Piala FA sebanyak 11 kali. Pada 2008, mereka menjadi klub Inggris pertama dan klub Eropa kedua yang berhasil menjadi Juara Dunia Antarklub FIFA.
6. Ajax Amsterdam : 9,0


Didirikan pada 1900. Klub ini adalah salah satu klub terkuat di Belanda dan juga diEropa. Ajax adalah salah satu dari empat klub yang telah memenangi ketiga-tiga gelar utama Eropa setidaknya sekali, masing-masing Piala Champions (4 kali), Piala Winners, dan Piala UEFA. Di kompetisi dalam negeri, Ajax 30 kali menjuarai Liga Belanda
7. Inter Milan


Didirikan pada tahun 1908. Inter telah memenangi 18 piala seri A, 7 Copa, 3 Liga Champion, 3 piala dunia antar klub. Inter menjadi satu-satunya klub di Seri A yang belum pernah turun ke Seri B.
8. Liverpool


Didirikan pada 1892. Liverpool adalah klub tersukses dalam sejarah persepakbolaan Inggris yang bermarkas di kota Liverpool. Liverpool telah memenangkan 5 trofi Liga Champions,18 gelar Liga Inggris, 7 Piala FA, serta, 7 kali juara Piala Liga.
9. Arsenal : 8.0

Didirikan pada 1886. Selain rekor tak terkalahkannya sebanyak 49 kali menjadi yang terpanjang di Inggris hingga saat ini, Arsenal juga mempunyai banyak prestasi lainnya, diantaranya: Liga Inggris: 13 kali, Piala FA: 10 kali, Piala UEFA: 1 kali.
10. Bayern Munchen

Didirikan pada 1900. Bayern adalah tim paling sukses di sepak bola Jerman. Mereka juga tim Jerman paling sukses dalam kompetisi internasional. 21 piala bundes liga dan 4 liga Champion.